Pesona Keajaiban Candi Borobudur

Pesona candi terbesar di dunia yang tak pernah pudar Tidak ada yang menyangkal bahwa Candi Borobudur, yang terletak di desa Boro kabupaten Magelang, adalah salah satu kebanggaan terbesar bangsa Indonesia. Monumen suci agama Buddha terbesar di dunia ini mulai dibangun pada masa Raja Samaratungga dari dinasti Syailendra pada tahun 824M. Bangunan ini diprediksi selesai sekitar 50 tahun kemudian, pada saat putrinya, Ratu Pramodhawardhani, memerintah. Keunikan Borobudur terletak pada 2672 arca dinding dan 504 stupa lonceng, sepanjang total 6 km. Relief terbagi menjadi 4 (empat) kisah utama, yaitu Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, dan Gandayuda.

Selain memaparkan perjalanan hidup Sang Buddha Gotama dan ajarannya, beberapa relief juga menghadirkan informasi kemajuan masyarakat Jawa pada masa tersebut. Salah satu relief yang unik adalah hadirnya 10 relief kapal. Salah satu relief kapal di antaranya dijadikan sebagai model replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga mendarat di Afrika pada tahun 2004. Replika kapal yang juga disebut sebagai Kapal Borobudur itu saat ini disimpan di Museum Samudra Raksa.

Untuk mengetahui cerita yang terpahat pada dinding candi, kita perlu berjalan mengitari candi searah jarum jam. Masuk dari pintu timur, kemudian berjalan searah jarum jam dengan posisi candi berada di sebelah kanan. Tiba di tangga timur, kita perlu naik ke tingkat berikutnya dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya hingga semua tingkat terlewati dan tiba di puncak candi, stupa induk. Di puncak setinggi 15 meter dari permukaan tanah, kita bisa melayangkan pandangan ke seluruh penjuru dan mendapatkan pemandangan pegunungan yang sangat indah, yaitu Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu yang seolah olah mengelilingi candi. Ibarat para penjaga candi suci Borobudur. Pembangunan candi Borobudur dilakukan dengan cara yang sangat unik.

Gunadarma, sebagai arsitek Borobudur, menerapkan model interlock, seolah olah membuat puzzle terhadap 2 juta balok batu, yang diambil dari Sungai Elo dan Progo. Pahatan yang dilakukan pada bebatuan yang tersusun rapi tersebut memberikan nilai seni yang teramat tinggi, sulit dibayangkan dilakukan pada masa lampau saat belum tersentuh teknologi. Dari atas, Borobudur terlihat laksana teratai di atas bukit, dengan puncak stupa seolah Sang Buddha tengah bermeditasi di tengah teratai. Ingin mendapatkan pemandangan sempurna? Jangan lewatkan saat matahari terbit di sekitar Borobudur. Pemandangan alam yang indah dan ketenangan suasana di sekitarnya akan membuat candi Borobudur terasa sangat menakjubkan dan merupakan salah satu keajaiban Indonesia yang diakui dunia.

Museum Kapal Samudraraksa

Museum Kapal Samudraraksa

Jangan lewatkan juga Museum kapal Samudraraksa, museum yang menghadirkan kebanggaan bangsa Indonesia terhadap kemampuan mengarungi lautan luas. Sebelum para pelaut Portugis tiba di Afrika pada pertengahan abad ke-16, orang orang Jawa ternyata telah lebih dulu berlayar sampai Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Pada tahun 1982, seorang mantan Angkatan Laut Inggris bernama Phillipe Beale berkunjung ke Borobudur dan terpesona dengan salah satu relief kapal pada pahatan dinding candi. Keindahan relief kapal tersebut membuatnya tertarik dan berpikir untuk membangun kapal serupa. Pembuatan kapal pun mulai dilakukan. As’ad Abdullah seorang ahli kapal di Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ditunjuk sebagai arsitek kapal. Dengan berbasis teknologi tradisional, kapal sepanjang 18,29 meter, lebar 4,50 meter, dan tinggi 2,25 meter akhirnya selesai dibangun. Tidak hanya dalam teknologi pembuatan, bahan bahan untuk membuat kapal pun juga berasal dari material relatif sederhana, seperti kayu ulin, bambu, karung beras untuk layar, serat nanas dan ijuk untuk bahan tali kapal. Kapal ini kemudian dinamakan Samudraraksa, sang pelindung laut.

Ekspedisi tapak tilas terhadap perjalanan bahari abad ke 8 dilakukan melalui jalur Cinnamon. Kapal Samudraraks berlayar tanpa mesin dilengkapi dengan 2 layar tanjak, 2 kemudi, dan cadik ganda, mengarungi samudra dengan tujuan Madagaskar, Cape town, Ghana. Setelah berbulan – bulan berada di lautan lepas, sempat hampir karam di perairan Somalia, akhirnya Samudraraksa berhasil merapat di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana, 23 Februari 2004. Selanjutnya, selang beberapa saat, kapal ditarik kembali ke Indonesia dan ditempatkan di Museum Kapal Samudraraksa, Borobubur.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *